Ketika tangan-tangan mengiba…

Dua anak kecil kumal, 3 dan 2 tahunan menyorongkan tangannya ke barisan kami yang baru keluar dari masjid. Beberapa lainnya saya temui di gerbang masjid. Semakin banyak hari ini dibanding dengan hari-hari biasa, karena hari ini hari jumat. Rasanya ada lebih 5000 jamaah yang sholat di Salman setiap jumatnya. Ketika berjalan di selasar FSRD, ada ibu-ibu sepuh menengadahkan tangannya juga….

Saya sudah agak lama nggak ke BIP (Bandung Indah Plaza), salah satu mall tertua dan teramai di Bandung, berhadapan dengan Kantor Walikota dan DPRD Kota Bandung. Dulu ada anak kecil, kurus sekali, kumalnya bukan main, tiduran di jalan tanpa alas apa pun, dengan sebuah kaleng di sampingnya. Kabar dari sekeliling, anak itu dipaksa oleh segerombolan orang-orang dewasa. Kalau kita misalnya ngajak ngomong, dan anak itu kelihatan menanggapi, bisa digampari itu anak.

Seorang anak (kemungkinan besar ini anak dari sekitar Bandung dsk), diculik dan diajak mengemis berbulan-bulan oleh seorang tunawisma sampai ke surabaya. Ketika ditemukan polisi, anak ini tak ada yang menemani, karena yg menculiknya telah meninggal.

Dua minggu lalu ke Medan, presentasi rencana proyek ke salah satu persh di sana. Kata seorang Bapak di persh itu, sekarang di Medan banyak pula yang mengemis di perempatan-perempatan jalan. Kata beliau yg orang Batak, orang Batak itu punya harga diri yang sangat tinggi. Kalau sekarang di tengah-tengah orang Batak ada pengemis, dengan asumsi pengemis itu adalah orang batak, apa artinya itu? Analisa beliau, berarti kondisi ekonomi benar-benar sulit luar biasa.

*****

Saya punya dua anak kecil (4.5 dan 2 tahun). Ya Allah, tak terbayangkan kalaulah yang berkeliaran di jalan-jalan itu adalah anak dan kerabat kita. Sempet nangis, membayangkan kalau yang diculik itu adalah anak-anak saya. Semoga Allah melindungi keluarga saya dan Anda dari kedzoliman seperti itu.

Terlepas kemungkinan besar adanya mafia di balik anak-anak kecil dan bapak-ibu sepuh yang terpaksa harus menengadahkan tangannya di perempatan-perempatan jalan, kalaulah punya rejeki, rasanya tak ada salahnya tetap berbagi. Saya memilih ini, mengesampingkan alasan tak memberi karena akan membuat mereka merasa nyaman. Tak ada orang yang pengin dirinya atau anaknya jadi pengemis, tak ada!! Pasti terpaksa mereka itu. Insyaallah itulah benar-benar rejeki kita kalau kita ikhlas, siapa tahu itulah yg jadi penyelamat kita nanti.

Tak yakin betul, apakah itu sudah cukup menggugurkan kewajiban? Apakah sudah mengeluarkan dari status lalai terhadap sholat karena lalai sama anak yatim dan fakir miskin. Maka sungguh tak masuk akal, orang-orang yang dengan sengaja menjalankan money politics untuk sekedar jabatan birokrasi. Bukankah setiap jiwa yang sekarang terpaksa hidup di jalan itu akan meminta pertanggung jawaban? Semoga semakin banyak pejabat bersih dan benar-benar berjiwa pengabdian yang kita punya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: