Bisnis dan Politik

Sebuah perusahaan suatu saat mendapatkan “pesanan” lewat seorang pejabat kementrian BUMN yang notabene anggota pimpinan sebuah Partai X. “Pesanan” tersebut menggunakan teori IT dan bisnis yang kira-kira seperti ini: “Sistem informasi dapat meningkatkan kinerja bisnis perusahaan. Enterprise Information System akan dapat meningkatkan efisiensi manajemen, menciptakan transparansi dan memudahkan pengambilan keputusan eksekutif”. Singkat kata, dibuatlah MOU antara perusahaan tadi dengan sebuah perusahaan IT Solution Provider, yang  di belakangnya berdiri pejabat dan jaringan Partai X.

Perlu waktu hampir tiga tahun untuk menyelesaikan solusi yang dijanjikan, melalui berbagai proses bongkar pasang tak karuan. Dari sekitar 40 unit kerja yang ada, hanya segelintir kecil (< 10%) unit kerja yang menerima, itu pun yang diterima hanya modul2 tertentu. Di akhir kontrak, bahkan seorang pejabat di perusahaan solusi tadi bahkan sempat membuat fitnah yg kira-kira begini: “Bagaimana ini Pak A, berita acara tidak ditanda tangani sampai sekarang. Padahal uang sudah diterima!”. Pak A tadi adalah manajer TI perusahaan klien tadi. Pak A berang bukan main, karena dia tak pernah minta dan dikasih uang sogokan itu. Singkat kata orang itu dipecat dari perusahaan solusi tadi. Anehnya, baru-baru ini dia kembali lagi sebagai presenter (ikut rombongan satu kementrian juga), presentasi tentang Enterprise Information System. Hahaha……

****

Dalam kasus di atas, pejabat dan Partai X tadi adalah pecundang yang sesungguhnya. Si perusahaan solusi tadi mustahil jadi perusahaan yang punya kekuatan bersaing, mustahil jadi perusahaan besar. Pasti.. pasti tinggal tunggu waktu saja perusahaan itu gulung tikar. Secara logis ini dapat dijelaskan dengan teori sederhana tentang profesionalisme: perusahaan solusi tadi menempatkan lobi (halal haram tak pandang bulu), di atas kredibilitas profesional. Kalau pakai kacamata syariah, tak mungkin barang haram tadi membuat suatu bangunan bisnis yang beranak pinak, karena tak mungkin tumbuh dan berlipat harta yang berasal dari barang haram. Na’uzubillah min dzalik….

Menurut teori Aa Gym, berbisnis itu harus bersih di tiga tahap:

  1. Niat harus benar
  2. Dilakukan dengan bersih dan profesional
  3. Menunaikan hak pihak-pihak dari yang dihasilkan, terutama memperbanyak berbagi

Orientasi hasil hanya 1 dari 3 ladang amal, dan ternyata dari fungsi waktu, proses menjalani untuk mendapatkan hasil-lah (poin ke-2) yang paling lama. Kesabaran, ikhtiar dengan profesionalisme dan ketawakalan adalah kunci di situ. Soal hasil, biar Allah yang tentukan, karena Dia paling tahu dimana rejeki kita. Yang diwajibkan ke kita adalah berikhtiar maksimal dan setelah itu bertawakal.

Kembali ke Politik dan Bisnis,

Walaupun tak bisa disangkal keduanya saling berkelindan, politik adalah keniscayaan. Politik itu seharusnya memperjuangkan agar lingkungan bisnis bisa kondusif melalui penerbitan kebijakan-kebijakan publik yang mendukung. Kalau berpolitik hanya biar bisa dapat akses ke kantong-kantong keuangan publik dan bisnis yang dimiliki negara, itulah politikus-politikus yang tak pantas duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat, lha wong yang diurus cuma perutnya sendiri.

One Response to Bisnis dan Politik

  1. budi irawan says:

    sudah sedemikian bobroknya ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: