Bingungnya jadi rakyat…

Wacana kenaikan harga BBM semakin kencang, RI1 & RI2 sudah eksplisit mengatakannya di berbagai pertemuan. Alasannya, APBN semakin terbebani dengan subsidi yang semakin membengkak, sehingga pembangunan di sektor-sektor lain jadi seret. Alasan yang lain, subsidi BBM mayoritas dinikmati oleh orang-orang yang mampu. Karena itu pemerintah sedang merencanakan bagaimana kompensasi BBM khususnya untuk masyarakat miskin.

Terlepas dari keragu-raguan apakah program kompensasi BBM akan tepat sasaran (karena dulu-dulu tak pernah tepat), kenapa lagi-lagi rakyat yang disuruh ngetatin pinggang? Kenapa efisiensi di belanja birokrasi (yang menurut Prof. Soemitro mencapai angka 30% karena KKN tentunya) tidak dilakukan secara sungguh-sungguh? Bagaimana mungkin mengundang simpati rakyat kalau pejabat-pejabat tinggi yang ngajak ngetatin ikat pinggang dan hidup sederhana ternyata tak kunjung hidup sederhana? Dalam kondisi yg seperti ini, seharusnya contoh hidup sederhana ditunjukkan tidak lagi dengan cara konvensional.

***

Saat ini ada yang seru dengan Krakatau Steel. Manajemen dan Komisaris PTKS menginginkan IPO untuk penambahan modal, guna menggenjot produksi sd 5 juta ton. Memperindag & Menperin sudah disambangi berbagai perusahaan baja kelas dunia, untuk menawarkan diri sebagai mitra dalam strategic sale PTKS. Apa hubungannya keduanya sama strategic sale PTKS? Bukankah itu urusan Meneg BUMN? ANEH….. Mungkinkan ada udang di balik batu? Manajemen dan Komisaris PTKS bersikeras dengan IPO cukuplah modal yang diperlukan, dan yang lebih penting dari itu adalah kemandirian bangsa, seperti yang menjadi tujuan awal pendirian pabrik baja itu oleh Bung Karno. Meneg BUMN ngengkel juga, katanya kalau IPO saat ini, harga tidak terlalu bagus. Kalau tak terlalu bagus, mengapa tidak tunggu timing yang tepat, mengapa ngotot strategic sale? Bukankah menunggu timing yg tepat juga dilakukan di penjualan beberapa BUMN sebelumnya? ANEH….

Apakah lagi yang akan dijual dari negeri ini? Negeri dengan sumber daya alam berlimpah, tapi miskin. Seperti tikus mati di lumbung padi.

***

Sebagai sebuah bangsa, kita sudah berada di titik nadzir nasionalisme dan kesadaran sehat. Inferior di hampir semua bidang, munduk-munduk di depan bule-bule yang otaknya pun tak selalu lebih pinter dari kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: