Nasionalisme itu….

Sore ini, di acara Showbiz on Location Metro TV, selama 30 menit Alvin Adam memandu acara yang mengulas perjuangan Tim Elfa’s Singer di perlombaan internasional menyanyi di Graz Austria. Penyanyi-penyanyi senior Elfa’s Singer yang sudah malang melintang ikut memperkuat tim Indonesia, meninggalkan keluarga dan pekerjaan di tanah air. Latihan terus sampai jam-jam terakhir pentas. Pentas yang memukau dan dua kemenangan Grand Champion dapat diraih. Ketika seluruh kontingen Indonesia maju ke depan podium untuk menerima penghargaan dan menyanyikan INDONESIA RAYA, tak terasa ternyata ikut sembab juga mata ini. Ternyata nasionalisme itu indah…. Kalau saya hadir di sana saat itu, pasti lebih larut lagi….

Nasionalisme itu salah satu vitamin penyehat jiwa. Berkelompok sosial sampai ujungnya munculnya teori aristrokrasi atau Nation State adalah pengejewantahan naluri alamiah manusia akan kebutuhan sosialisasi. Kalau Tom Hanks dalam Cast Away menjadi begitu “gila” kelakuannya karena terpisah berbulan-bulan dengan manusia karena terdampar di pulau terpencil di Samudera Pasifik, itu dapat dimengerti dengan pendekatan ini.

Setelah acara di Metro TV ini, saya switch ke stasiun TVOne yang mengulas tentang perang gerilya Jenderal Soedirman, The Indonesian Greatest General untill today. Kalau Anda melihat acara tersebut (saat menulis ini saya sambil melihat TV), Anda pasti setuju dengan pendapat saya: berapa ikhlas, tabah, sabar dan kuatnya Jenderal Soedirman dan seluruh pejuang republik saat itu. Kelaparan dan sakit keras tak menghentikan beliau, selalu taat ibadah dan menjaga kebersihan jiwa sampai detik terakhir kehidupannya. Hebatnya beliau ini, kelembutannya adalah kekuatannya, setiap perselisihan antar laskar akan selesai dengan surat beliau. Mantan Guru Muhammadiyah, dan pemimpin Pandun Hizb Wathan, bahkan disebut sebagai kyai dan fatwa-fatwanya selalu bersandar pada ajaran Islam. Islam dan Nasionalisme, itulah menurut saya jadi sumber kekuatan Jenderal Soedirman. Semoga maghfirah dan rahmat Allah selalu tercurah untuk Jenderal Soedirman.

Kalau dulu Indonesia ini hadir secara syariat salah satunya dengan nasiolisme para pendahulu kita, kini kita butuh itu untuk bangkit kembali.

Medan, 3 Agustus 2008. Di tengah-tengah ngelembur kerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: