Riset vs Mroyek

Cuma ada satu perbedaan antara S3 di Indonesia dan negara yang sudah mapan kultur risetnya (jepang, USA, eropa, singapore): Kalau di sana itu kita dibayar untuk mbaca jurnal ilmiah, kalau di sini kita harus membayar untuk bisa baca jurnal ilmiah yang bermutu. Hehe… itu anekdot saya dan temen-temen di lab, tak sepenuhnya betul…

Saya punya kewajiban riset di kampus, tapi juga terpaksa harus tetap mroyek agar dapur tetap ngepul. Selain alasan finansial, proyek-proyek konsultansi juga akan memberikan pengalaman praktis yang tak didapat di lab, tapi ya itu… jadinya riset sering dijadikan korban. Akhirnya, progress riset mpot-mpotan… Pembimbing semakin intensif saja nagihnya, disertai dengan “sms cinta” rutin….

Tapi kalau melihat teman yang pernah di posisi seperti ini (thx Mas Ndung..), memang banyak kontradiktifnya antara Riset dan Mroyek itu: WAKTU ITU TERBATAS, SWITCHING KONSENTRASI ITU SANGAT TIDAK MUDAH UNTUK DUA HAL YANG TIDAK INLINE, IDE-IDE GENUINE RISET HANYA MUNCUL JIKA KITA ON THE STREAM, DAN TERNYATA ON THE STREAM ITU PADA PRAKTEKNYA MEMBUTUHKAN WAKTU YANG INTENSIF.

Memang harus mencutikan diri ya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: