Fatwa Hukum Rokok, Dampak Ekonomi dan Budaya Rokok

Akhirnya MUI mengeluarkan fatwa haram atas rokok, tapi ini dikhususkan untuk Anak-Anak, Remaja dan Ibu Hamil. Begitu saya baca di detik.com, lewat RSS Feed di outlook.

Apakah hukum merokok?

Saya dan empat saudara saya disekolahkan pakai uang rokok ini. Bapak saya sejak lulus SD sampai dengan pensiun kerja di Gudang Garam Kediri. Beberapa paman dan saudara sepupu saat ini juga kerja di Pabrik Gudang Garam, demikian pula bunyaakkk sekali tetangga saya di Kediri sana. Penyumbang terbesar Ponpes Lirboyo, salah satunya adalah Gudang Garam. Di Kediri saja, Gudang Garam menyerap lebih dari 40.000 pekerja. Di lereng-lereng gunung wilis tak terhitung petani yang jadi bagian urat nadi industri rokok ini, belum lagi industri-industri derivatifnya. Kediri Kota adalah salah satu kota paling besar PAD-nya, karena cukai rokok. Kalau Gudang Garam tutup, pemda kota dan kabupaten bisa dipastikan akan langsung limbung, dapat dipastikan akan menghadapi permasalahan sangat-sangat berat.

Kudus mirip sekali dengan Indonesia, dengan Djarumnya. Surabaya ada Sampoerna, tapi dia tidak mendominasi ekonomi sebuah daerah, seperti di Kediri dan Kudus.

Kak Seto adalah pendukung utama fatwa haram ini, terutama karena kesedihan beliau yg sangat mendalam akan konsumsi rokok di anak-anak dan remaja. Di Bandung ini, tak susah menemukan anak-anak SD (!!!!!!!!) ngariung pagi-pagi dengan temannya, dengan asap rokok mengepul di tengah-tengah mereka seperti api unggun.

Setelah diluncurkan, aliran yang mendukung dan menentang sama kerasnya. Alasan pihak pendukung di antaranya adalah kesehatan, masa depan generasi penerus, dsj. Penentangnya beralasan pada dampak ekonomi berantai yang ditimbulkannya, level haram belum saatnya (banyak yg berpendapat makruh lebih tepat), dsj. Yang menentang juga mempertimbangkan bahwa”BUDAYA ROKOK” yg sadar atau tidak merasuki masyarakat ini, bisa kontraproduktif jika dihantam dengan fatwa haram, MUI bisa hancur legitimasinya karena semakin tak dipercaya masyarakat. Di Kediri sana, kalau mengikuti tradisi tahlilan, suguhannya salah satunya adalah rokok. Jadi setelah tahlilan, semua orang akan merokok sambil menikmati makanan yang disajikan, plus ngobrol menunggu pembubaran acara. Rumah seperti bus terbakar. Tapi itulah tradisi di sana….. Rasanya ini merata hampir ada di kota-kota Jatim sana.

Secara budaya ini memang berat…..

Saya tak tahu banyak Ushul Fiqh, metodologi yang digunakan untuk mengambil sebuah hukum atas sesuatu. Semoga dampak-dampak negatifnya tak terjadi, ya kalaupun terjadi minimallah….

2 Responses to Fatwa Hukum Rokok, Dampak Ekonomi dan Budaya Rokok

  1. Abdul rouful muiz says:

    Satu lagi yang mengalami kerugian akan fatwa rokok; Rumah sakit, klinik, anak dokter , dokter dan perawat kayaknya merasa miris karena pasiennya berkurang drastis dan penghasilan pasti berkurang karena fatwa haram rokok…
    dan akhirnya lebih baik memikirkan solusi membalikkan peluang usaha dari rokok ke usaha lain dari pada memelihara budaya yang bisa menghabisi masyarakat secara perlahan-lahan

  2. abuazmar says:

    Hehe. Bener juga ya uf…
    Jadi tersentil karena aku belum mikirin apa yg bisa dilakukan buat membantu di Kediri sana….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: