Komunikasi Primitif

Menjelang musim pemilu ini sempat jalan-jalan ke beberapa kota di Jawa Barat, setidaknya dua minggu sekali bolak-balik Bandung Jogja lewat jalur selatan. Sudah lebih 3 bulan punya ritual seperti itu. Membaca baliho, spanduk caleg dsj di pinggir-pinggir jalan bisa menghibur, bisa juga membosankan.

Sampai detik ini pun saya tak tahu harus mencoblos siapa untuk Caleg DPRD Kab. Bandung Barat, DPRD Jabar dan DPR-RI. Hampir tak ada yang berkelebat di kepala ini, kecuali beberapa gelintir orang-orang dan temen-temen yang sekarang masuk kancah politik. Setidaknya saya cukup tahu gmn mereka dulunya dan seperti apa mereka sekarang ini. Tapi mereka hampir-hampir saja tak ada dalam deretan pameran foto di pinggir jalan. Mungkin mereka itu cukup miskin, bahkan sekedar bikin brosur seukuran saku kantong. 🙂

Mengapa cara komunikasi caleg mayoritas masih sangat primitif? Bagaimana orang biasa seperti saya harus memilih wajah-wajah yang mayoritas tak tahu sejauh mana kredibilitasnya? Tidak adakah mekanisme sosialisasi yang lebih cerdas dari sekarang ini?

Mungkin sih… caleg itu seharusnya harus mendeklarasikan 5 tahun sebelumnya. Nah di 5 tahun menuju pemilihan itu, mereka harus kunjungi seluruh pelosok, buat sesuatu yang riil bagi masyarakat, nah baru setelah itu mereka menawarkan dirinya untuk dipilih. Lha kok tiba-tiba disodorin segitu banyak foto “bukan siapa pun” itu, memangnya kita ini bukan manusia normal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: