Audit Arsitektur TI

Auditing IT Architecture

Apakah IT Architecture itu? Kalau dalam dunia sipil, Arsitektur Bangunan menjelaskan tentang desain detail sebuah bangunan: bagaimana bentuk detail bangunan dan apa saja bahan yang digunakan; tentu saja merujuk kepada satu hal paling mendasar: bangunan itu diperuntukkan untuk apa? Demikian pula Arsitektur TI, dia merupaka DESAIN dan SPESIFIKASI “bangunan” TI di sebuah organisasi atau perusahaan. Idealnya Arsitektur TI itu mencerminkan strategi bisnis, dan potensi TI sangat luar biasa dalam domain ini. Organisasi atau perusahaan yang terbawa arus “Demam TI” tidak akan pernah menghasilkan nilai tambah yang berarti. Hanya organisasi atau perusahaan yang memiliki Arsitektur TI yang paling tepatlah yang paling bisa mendayagunakan TI untuk bisnisnya.

Investasi TI itu tidak murah, apalagi daur hidupnya yang tidak panjang-panjang amat, ambillah per 5 tahunan. Satu faktor utama lain yang mesti selalu diperhatikan: tantangan terbesar implementasi TI ternyata adalah manajemen perubahan individu dan organisasi. Semahal apa pun investasi TI digelontorkan, tidak akan berguna kalau manajemen perubahan itu tidak dilakukan. Masalahnya manajemen perubahan itu tidak mudah, jauh lebih mudah pengadaan teknologinya tentu saja. Dengan kata lain, investasi TI itu tidak sederhana, bukan hanya beli aplikasi atau perangkat keras, tetapi mengkombinasikan solusi teknologi tadi dengan pendekatan individu dan organisasi.

Mengapa Audit Arsitektur TI diperlukan? Kalau hal-hal di bawah ini terjadi, mungkin bisa dipertimbangkan mengapa perlu audit Arsitektur TI:

  1. Investasi TI sudah dilakukan sekian tahun, tapi tidak banyak berarti dalam memenangkan persaingan bisnis. Tetap saja tak ada perbedaan signifikan perusahaan kita dengan yang lain.
  2. Aplikasi banyak dibangun, tetapi tetap saja ditemui kesulitan dalam memonitor keberjalanan bisnis. Bahkan mungkin lebih ironis lagi, manajemen atau eksekutif pengambilan keputusannya masih didasarkan pada laporan-laporan manual, di tiap-tiap rapat koordinasi setiap manajer bidang membawa laporan segepok.
  3. Pelaporan-pelaporan bisnis tidak bertambah efisien secara berarti.
  4. Pertukaran informasi dan komunikasi antar staff dan unit kerja masih mengandalkan pola-pola konvensional.
  5. Dulu pakai manual cepat, sekarang pakai berbagai aplikasi malah prosesnya semakin lama?

Jadi Audit Arsitektur TI ini bisa jadi sangat strategis untuk sebuah organisasi atau perusahaan. Setidaknya, berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab dengan Audit Arsitektur TI ini:

  1. Apakah seluruh layanan bisnis telah difasilitasi oleh sistem informasi yang memadai? Untuk setiap layanan bisnis yang telah difasilitasi oleh sistem informasi: apakah keberadaannya benar-benar memberikan nilai berarti bagi bisnis?
  2. Apakah sistem informasi yang ada sekarang ini mengimplementasikan platform yang dapat mengakomodir persyaratan pertumbuhan kapasitas dan keamanan yang memadai?
  3. Apakah seluruh sistem informasi yang ada sekarang ini mengakomodir kebutuhan integrasi sistem?
  4. Apakah informasi yang dihasilkan oleh seluruh sistem informasi dapat digunakan untuk monitoring operasional secara cepat dan dasar pengambilan keputusan yang akurat bagi top level management?
  5. Dan ujungnya: Apakah Arsitektur TI saya saat ini sudah sesuai dengan Arsitektur Bisnis saya?

Semoga di tulisan mendatang bisa dilanjut dengan sekilas pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan Audit Arsitektur TI ini.

2 Responses to Audit Arsitektur TI

  1. shandi says:

    Mau tanya nih pak? lagi belajar …

    apakah hasilnya audit arsitektur TI yang berupa rekomendasi akan sama dengan hasil dari IT Master Plan ?

    trim’s

    • abuazmar says:

      Yang pernah saya temui, inisiatif Audit Arsitektur TI ini ada yang menjadikannya satu paket dalam kerjaan penyusunan IT Plan (misal ITMP itu), atau ada juga yang memisahkannya dalam kerjaan lain. Hasil Audit Arsitektur TI mungkin lebih tepat jika dikatakan akan menghasilkan hal-hal berikut ini (di antaranya):

      1. Status dukungan TI atas proses bisnis (transaksional & analytical)
      2. Tingkat risiko sistem TI eksisting
      3. Tingkat kematangan tata kelola TI
      4. Rekomendasi

      Nah, rekomendasi itu bisa jadi akan menjadi requirement yang harus dirujuk ketika akan menyusun IT Master Plan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: