Parenting Nabawiyah

Setelah era sekolah-sekolah IT (Islam Terpadu), baik yang boarding atau bukan, sekarang muncul gerakan parenting nabawiyah. Salah satu ciri khas dari gerakan ini adalah pengin mengambil inspirasi dari pendidikan jaman Rasulullah dan Salafus Shalih. Ciri kedua adalah ada kecenderungan untuk melepaskan diri dari sistem pendikan konvensional dan berbagai teori, metodologi dan riset di belakangnya. Mungkin karena ada perspektif sistem pendidikan sekarang telah gagal.

Read more of this post

Bantuan Untuk Situ Gintung

Turut menyebarkan saja, bagi yang memiliki kelapangan dapat turut serta meringankan saudara-saudara di Situ Gintung melalui channel berikut ini:

    1. Sabili
    2. STEI Ahmad Dahlan
    3. Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Quran (Ust. Yusuf Mansyur)

    Memilih Partai Yang Bisa Milih Calegnya….

    Walaupun tak bisa mengatakan bahwa politik kita sudah gila, tetapi setidaknya ada perilaku beberapa partai politik yang “SUDAH GILA” dalam memilih caleg-nya.

    • Mengapa banyak partai yang mengedepankan artis sebagai calegnya? Mungkin karakter kebanyakan kita yang lebih suka memiliki idola artis dibandingkan dengan profesi-profesi lain. Artis lebih sering muncul di TV, lebih terkenal dan lebih menarik tentunya. Kalau mau melihat mana partai yang cukup cerdas dan mana partai yang hanya mementingkan kemenangan calegnya, dengan “memanfaatkan kebodohan masyarakat”, sekarang bisa lihat di salah satu program itu di TZV swasta. Saya melihat acara itu hanya untuk melihat partai mana yang tidak punya cara yang tepat untuk memilih seorang artis jadi caleg, bukan apa yang dikatakan si artis tadi. Ada artis yang jadi caleg sebuah partai, tapi tak bisa menjelaskan program partainya, malah diwakili penjelasannya oleh pendukungnya. Ada artis yang mewakili sebuah daerah yang notabene bukan tempat kelahirannya, dan minim sekali mengerti bahasa daerah tsb. Kebayang nanti si caleg ini kerjaannya apa di DPR/DPRD. Memang anggota legislatif bisa diwakilkan seperti acara kendurian??
    • Media memang membius, cap apa yang dikasih media bisa menipu jutaan orang. Ada seorang caleg sebuah partai yang jadi caleg nomor pertama di salah satu daerah. Terkenal sih dia di media sebagai pakar sebuah profesi. Tapi anehnya ini orang tak punya background pendidikan di situ, banyak sekali pendapatanya di media massa disangkal habis oleh komunitas profesi itu. Dan yang terakhir, di pengadilan posisinya sebagai narasumber ahli di profesi itu ditolak karena diragukan kepakarannya. Anehnya, dia jadi kepala bidang itu di partai tersebut, dan sekarang jadi caleg. Apa kata dunia????????

    Lha kalau satu partai tak bisa memilih caleg yang baik dan layak, itu seperti orang tua yang menyajikan makanan basi kepada anak-anaknya. Itu orang tua kurang ajar, penipu!!! Partai yang seperti itu tak layak dipilih, tak ada harapan yang bisa disandarkan ke mereka.

    Memilihkan sekolah anak

    Anak pertama saya tahun ini masuk SD. Sejak tahun lalu saya dan istri was-was mengenai ini. Dulu waktu kami kecil tak ada kebingungan sedikit pun di orang tua kami, lha wong SD-nya ya cuma itu satu-satunya di kampung. 26 tahun kemudian, apalagi sekarang di kota seperti Bandung ini, memilihkan SD buat anak kami jadi titik penting yang harus serius dipikir dan dijalankan.

    SD adalah masa pembentukan paling dasar dari kepribadian dan karakter anak. Karena pertimbangan ini, kami coba sekuat tenaga memilihkan sekolah yang benar-benar terbaik untuk pengembangan karakter anak, terutama menguatkan filosofi dasar tauhid-nya. Tidak ada satu sekolah pun di dunia ini yang dapat mengambil alih seluruh tanggung jawab pendidikan anak dari orang tuanya. Jadi filosofi pendidikan keluarga akan menentukan sekolah mana yang dipilih.

    Akhirnya kami memilihkan satu SD yang tak terlalu jauh dari rumah, SD Nur Ar-Rahman di daerah Cihanjuang – Cimahi. Minggu lalu saya tungguin sendiri tes observasi anak saya, biasanya ibunya yang kebagian seperti ini. Tetapi karena Ibunya harus ngisi acara di Gamais ITB, jadilah saya satu-satunya Bapak yang nungguin sendiri anaknya di sana. Hehe…. Saya pilih sekolah ini karena jelas arah pengembangan karakternya kemana, dan sesuai dengan prinsip keluarga kami. Sejak awal kami juga coba komunikasikan dengan anak kami ini, kami ajak survey, kami sampaikan mengapa kami usulkan dia sekolah di tempat itu, dan kami kasih waktu dia berpikir. Ketika benar-benar dia mau, baru kami daftarkan ke sana.

    Menurut kami langkah ini penting, biar anak kami ini tahu motif paling dasar mengapa dia sekolah di situ, bukan di yang lain seperti teman-temannya di kompleks yang tiap hari main sama dia. Dan ternyata anak 5.5 tahun itu sudah mengerti betul hal-hal seperti ini.

    Komunikasi Primitif

    Menjelang musim pemilu ini sempat jalan-jalan ke beberapa kota di Jawa Barat, setidaknya dua minggu sekali bolak-balik Bandung Jogja lewat jalur selatan. Sudah lebih 3 bulan punya ritual seperti itu. Membaca baliho, spanduk caleg dsj di pinggir-pinggir jalan bisa menghibur, bisa juga membosankan.

    Sampai detik ini pun saya tak tahu harus mencoblos siapa untuk Caleg DPRD Kab. Bandung Barat, DPRD Jabar dan DPR-RI. Hampir tak ada yang berkelebat di kepala ini, kecuali beberapa gelintir orang-orang dan temen-temen yang sekarang masuk kancah politik. Setidaknya saya cukup tahu gmn mereka dulunya dan seperti apa mereka sekarang ini. Tapi mereka hampir-hampir saja tak ada dalam deretan pameran foto di pinggir jalan. Mungkin mereka itu cukup miskin, bahkan sekedar bikin brosur seukuran saku kantong. 🙂

    Mengapa cara komunikasi caleg mayoritas masih sangat primitif? Bagaimana orang biasa seperti saya harus memilih wajah-wajah yang mayoritas tak tahu sejauh mana kredibilitasnya? Tidak adakah mekanisme sosialisasi yang lebih cerdas dari sekarang ini?

    Mungkin sih… caleg itu seharusnya harus mendeklarasikan 5 tahun sebelumnya. Nah di 5 tahun menuju pemilihan itu, mereka harus kunjungi seluruh pelosok, buat sesuatu yang riil bagi masyarakat, nah baru setelah itu mereka menawarkan dirinya untuk dipilih. Lha kok tiba-tiba disodorin segitu banyak foto “bukan siapa pun” itu, memangnya kita ini bukan manusia normal?

    Muslim Rohingya: Bagaimana kita bisa bantu?

    Adakah yang bisa memberitahu bagaimana kita bisa turut serta meringankan beban saudara-saudara kita Muslim Rohingya yang teraniaya di Myanmar dan terlunta-lunta di perairan internasional?

    Muslim Rohingya Berdoa di Pangkalan TNI AU Sabang, Detik.com

    Adakah Lembaga Amil Zakat yang mengkoordinirnya? Semoga pemerintah dengan mempertimbankan alasan kemanusiaan bisa membantu mereka ini. Amin.

    Kalau Aku Bisa Beli….

    Beberapa bulan ini saya dan keluarga kehilangan sahabat dekat, sebuah radio dakwah yang saat ini kesulitan biaya operasional: MQFM. Tak pernah saya fanatik seperti MQFM, sejak dari kota asal dulu sampai di Bandung ini. Banyak sekali ilmu yang bisa tergali. Di mobil, default frekuensi adalah 102.7 FM. Bulan-bulan ini mobil kami sepi, sebab chanel itu tak lagi selalu ada.

    Kalau aku bisa beli….

    Beli saham untuk operasional radio ini adalah wakaf, tabungan dengan bunga akhirat tak kunjung habis, selama alunan dakwah tetap terpancarkan. Semoga ini jadi hikmah terbesar kita semua, terutama penggemar MQFM. Mendengarkan saja tidak cukup, tapi kita harus bisa menghidupkan juga media ini.

    Lagi cari-cari info gmn bisa ikutan sharing saham umat ini….

    Adakah yg bisa bantu kontaknya?

    Ditunggu, Debat Terbuka Golput Haram

    Saya bingung.. ngung….. Mengapakah golput diharamkan? Memilih adalah hak, bukan kewajiban, itu adalah bunyi UU Pemilu. Karena berhak memilih dan tak memilih, mengapa yang tak memilih akhirnya diharamkan? Kalau diwajibkan memilih, kapan itu partai-partai yang masuk kategori “gombal” mau belajar?

    Pemilu adalah bagian demokrasi, dan banyak juga ulama yang tidak setuju demokrasi. Kalaulah demokrasi tak disetujui, maka seluruh turunan mekanisme tak perlu diperdebatkan lagi, wong parent-nya sudah jelas hukumnya. Itu kalau mengikuti fatwa bahwa demokrasi tak sesuai dengan Islam.

    Semoga ada debat terbuka khususnya mengenai hukum Golput haram ini. Kalau isu haramnya rokok sudah lama berhembus, kalau golput kan berhembusnya bbrp bulan terakhir ini saja, terutama ketika salah satu lembaga negara mengutarakannya secara terbuka di media.

    USA Now: Reverse Brain Drain

    Salah satu kunci di belakang suksesnya Amerika ternyata adalah banyaknya imigran intelektual yang masuk ke sana. Tahukah Anda bahwa dalam 10 tahun terakhir ini bahwa patent yang diajukan oleh Foreigner tersebut berlipat tiga dibandingkan dekade sebelumnya? Majalan Communication of The ACM (Nov 2007) malah mengatakan bahwa ternyata Universitas Harvard, Duke dan New York University telah mempublikasikan analisa pengajuan patent internasional, dan menyebutnya: REVERSE BRAIN DRAIN.

    Ketiga universitas ini memperingatkan pemerintahnya, kalau tidak ada reformasi imigrasi, maka “skilled immigrants” tesebut akan meninggalkan USA, dan akan menggerogoti daya saing bangsa. China dan India disebut eksplisit dalam publikasi ACM ini sebagai negara-negara yang berpotensi menciptakan perusahaan-perusahaan rival dari trend di atas. Ini ada bbrp fakta menarik:

    • USA rata-rata dalam setahun memberikan visa permanent ke 1,2 juta “skilled workers”
    • Di tahun 2006, masih ada sekitar 1 juta orang “skilled workers” yang masuk waiting-list (ini termasuk 500 ribu “highly skilled worked”)
    • Berdasrkan hasil riset oleh ketiga lembaga itu: jumlah patent di WIPO (World Intellectual Property Organization) yang dihasilkan oleh foreigner pada 1986 adalah 7.3%, dan di tahun 2006 mencapai 24.2%.

    ***

    Saya baru baca lagi majalan langganan ini sambil lalu, pas baca tahun 2007 dulu malah tidak ngeh. Orang-orang Indonesia banyak juga yang ikut barisan “skilled foreigners” tadi, saya yakin sekali dengan itu. So, apakah Indonesia mampu menawarkan iklim riset dan industri yang memungkinkan orang mau balik kampung? Dalam banyak kasus, researcher dan technopreneur tadi merasa jadi “nothing” jika harus balik dan tak bisa melakukan apa-apa.

    India dan China, dua negara yang layaknya dijadikan contoh untu yg seperti ini.

    Fatwa Hukum Rokok, Dampak Ekonomi dan Budaya Rokok

    Akhirnya MUI mengeluarkan fatwa haram atas rokok, tapi ini dikhususkan untuk Anak-Anak, Remaja dan Ibu Hamil. Begitu saya baca di detik.com, lewat RSS Feed di outlook.

    Apakah hukum merokok?

    Saya dan empat saudara saya disekolahkan pakai uang rokok ini. Bapak saya sejak lulus SD sampai dengan pensiun kerja di Gudang Garam Kediri. Beberapa paman dan saudara sepupu saat ini juga kerja di Pabrik Gudang Garam, demikian pula bunyaakkk sekali tetangga saya di Kediri sana. Penyumbang terbesar Ponpes Lirboyo, salah satunya adalah Gudang Garam. Di Kediri saja, Gudang Garam menyerap lebih dari 40.000 pekerja. Di lereng-lereng gunung wilis tak terhitung petani yang jadi bagian urat nadi industri rokok ini, belum lagi industri-industri derivatifnya. Kediri Kota adalah salah satu kota paling besar PAD-nya, karena cukai rokok. Kalau Gudang Garam tutup, pemda kota dan kabupaten bisa dipastikan akan langsung limbung, dapat dipastikan akan menghadapi permasalahan sangat-sangat berat.

    Kudus mirip sekali dengan Indonesia, dengan Djarumnya. Surabaya ada Sampoerna, tapi dia tidak mendominasi ekonomi sebuah daerah, seperti di Kediri dan Kudus.

    Kak Seto adalah pendukung utama fatwa haram ini, terutama karena kesedihan beliau yg sangat mendalam akan konsumsi rokok di anak-anak dan remaja. Di Bandung ini, tak susah menemukan anak-anak SD (!!!!!!!!) ngariung pagi-pagi dengan temannya, dengan asap rokok mengepul di tengah-tengah mereka seperti api unggun.

    Setelah diluncurkan, aliran yang mendukung dan menentang sama kerasnya. Alasan pihak pendukung di antaranya adalah kesehatan, masa depan generasi penerus, dsj. Penentangnya beralasan pada dampak ekonomi berantai yang ditimbulkannya, level haram belum saatnya (banyak yg berpendapat makruh lebih tepat), dsj. Yang menentang juga mempertimbangkan bahwa”BUDAYA ROKOK” yg sadar atau tidak merasuki masyarakat ini, bisa kontraproduktif jika dihantam dengan fatwa haram, MUI bisa hancur legitimasinya karena semakin tak dipercaya masyarakat. Di Kediri sana, kalau mengikuti tradisi tahlilan, suguhannya salah satunya adalah rokok. Jadi setelah tahlilan, semua orang akan merokok sambil menikmati makanan yang disajikan, plus ngobrol menunggu pembubaran acara. Rumah seperti bus terbakar. Tapi itulah tradisi di sana….. Rasanya ini merata hampir ada di kota-kota Jatim sana.

    Secara budaya ini memang berat…..

    Saya tak tahu banyak Ushul Fiqh, metodologi yang digunakan untuk mengambil sebuah hukum atas sesuatu. Semoga dampak-dampak negatifnya tak terjadi, ya kalaupun terjadi minimallah….