Untuk Palestina

Syukurlah ada Aljazeera, sehingga bisa dapat dua sisi bertolak-belakang dari peristiwa palestina terkini. CNN jelas sekali berpihak ke israel, cuplikan beritanya selalu menonjolkan berapa tentara terkutuk israel yang terluka, dibandingkan dengan ratusan sipil palestina yang meninggal, atau ribuan lainnya yang terluka parah. Coba ke New York Times, sama saja, yang jadi headline malah gambar penguburan sipil israel.

Tak perlu diperdebatkan, media-media barat seperti CNN dan New York Times tidak akan berpihak kepada apa yang kata mereka “nilai-nilai universal”. Standar ganda… lagi-lagi. Tak perlu capek habiskan energi untuk menghujat negara-negara dan manusia-manusia binatang seperti mereka. That’s enough, now we focus on du’a and help on Palestine’s.

Mari kita doakan rakyat Palestina dan pejuang-pejuang HAMAS yang saat ini berjuang. Setiap akhir sholat, setiap melihat atau membaca beritanya. Israel was failure to learn, begitu satu tulisan di Aljazeera. Israel keliru besar kalau palestina bisa ditundukkan dengan senjata. Mereka tak belajar dari peristiwa memalukan tahun 2006, ketika mereka bertekuk lutut dengan Hizbullah di Lebanon. Saat serangan darat diluncurkan seperti saat ini, itulah saat neraka datang bagi mereka.

Berbagai analisa jurnalis independen tentang potensi militer HAMAS dapat dibaca detailnya di site Aljazeera. Semakin perang ini berlarut, konstelasi politik lokal di berbagai negara arab bisa berubah drastis. Mungkin saja terjadi kejatuhan rejim di negara-negara arab seperti mesir, karena kebijakan pemerintahnya akan palestina bertolak belakang dengan keinginan mayoritas warganya.

Perbanyak doa untuk saudara kita di Palestina.

Sisihkan rejeki kita untuk membantu mereka.

Obama: New Hope, Perampok atau Perompak?

Dalam salah satu wawancara di salah satu TV swasta, waktu ditanya reporter apa bedanya Partai Republik dan Partai Demokrat di USA sana, pak Amien Rais bilang: Satu perompak, yang lain perampok. Tentu saja beliau berseloroh atas ungkapannya itu. Tapi yang saya tangkap, partai apa pun yang menang di pemilu sana, tak ada pengaruhnya sama kita. Tetap saja kita dipencet habis-habisan. Waktu Clinton Indonesia diserang habis-habisan dengan isu HAM, waktu Bush kita didikte habis dlm isu terorisme. Sami mawon, ini sudah berjalan hjampir 4 dekade, sejak tahun 70-an ketika pembangunan negeri ini banyak berkiblat ke Amerika.

Obama terpilih jadi presiden, akankah ada perubahannya buat Indonesia atau dunia Islam? Hmmm…. nggak yakin ada. Di konferensi pers pertamanya saja dia sudah menjilat ludahnya sendiri untuk berdialog lebih terbuka tentang isu nuklir iran. Alih-alih berdialog, malah dia secara tegas mengatakan kalau program nuklir iran tidak dapat diterima. Lihat di sini.

Apakah tata perekonomian dunia akan berubah? Akankah buble system karena implementasi mata uang dolar amerika sebagai hard currency tanpa ada referensi nilai riilnya seperti sekarang ini akan mengalami pergeseran?

Kali Cikapundung vs Kali Code

Kali (sungai) Cikapundung membelah jantung Kota Bandung, Kali Code adalah salah satu kali yang membelah Kota Yogyakarta. Dua hari kemarin, Minggu-Senin (09-10/11/2008) kemarin ada agenda ke Jogja. Senin malam, sambil nunggu kereta lodaya dari Solo (dari Stasiun Tugu 21.30), saya nengok anak ketiga temen yang baru lahir bbrp minggu lalu, makan rawon jawa timuran, baru ke stasiun.

Dalam dua hari itu beberapa kali melewati Kali Code. Yang paling membedakan dengan Sungai Cikapundung, Kali Code jauh lebih bersih. Perumahan-perumahan di pinggir Kali Code juga tertata sangat rapi, walaupun sederhana. Jalan-jalan setapak di sepanjang sungai diaspal rapi, tempat-tempat duduk santai banyak dibangun di pinggir sungai. Kata Helmi temen saya yang ngantar seharian itu, ternyata ada juga Rumah Susun yang sengaja dibangun di pinggir Kali Code itu, sehingga memang bisa jadi solusi untuk menampung banyak keluarga di situ.

Dua minggu lalu sempat ada workshop dengan teman di Hotel Aston, Braga Bandung. Dari lantai 16 bisa dilihat liukan Kali Cikapundung. Jadi ingat itu, dan dibandingkan dengan yang kemarin dilihat di Kali Code, jadi malu sama orang Jogja. Kapankah Kali Cikapundung bisa seperti Kali Code?

Satu lagi, kapankah jalan juanda (Dago) tidak lagi menjadi sungai dadakan ketika hujan besar datang? Ini satu lagi perbedaan dengan Jogja, drainase di sana lebih tertata dan terpelihara dibandingkan dengan Kota Bandung. Kalau Bandung terus begini, industri jasa lambat laun akan pudar, karena citra Bandung yang asri, tertata dan berhawa sejuk semakin susah didapatkan.

Semoga ini salah satu titik terang itu…

Berikut ini berita tentang penerimaan taruna Akpol terbaru:

“Tahun ini anak Kapolda (berpangkat jenderal) tidak lulus, sedangkan anak seorang penambal ban di Cengkareng (Tangerang, Banten) lulus,” kata Deputi Sumber Daya Manusia Kapolri, Irjen Pol Bambang Hadiyono di Kampus Akpol, Kota Semarang, Senin.

Pokorasmin, seorang penjual roti panggang asal Bandung mengaku tidak tahu menahu soal uang.”Tidak tahu soal itu. Dia (anak saya) daftar sendiri. Dia juga tidak pernah minta uang ke saya,” ujarnya.

Selengkapnya: http://www.antara.co.id/arc/2008/8/25/anak-penambal-ban-kalahkan-anak-jenderal-untuk-masuk-akpol/

Beginikah negara ini memperlakukan rakyat berprestasinya?

Seorang anak juara dunia catur yg diundang ke acara 17an SBY, dijamu makan malam oleh SBY. Bayangkan betapa bangganya dia. Tapi besoknya, betapa dia merasa tak ada gunanya berprestasi buat negara karena terlantar kehabisan uang dan tak bisa pulang ke riau. Beginilah tanggapan orang depdiknasnya:

“Kesalahan dari bapak itu sendiri. Tidak berkoordinasi. Kami sudah membicarakan, kami tidak menyediakan dana untuk itu,” kata staf Direktorat Pengawasan TK/SD Depdiknas, Yuni S, saat menjemput Yuni di Posko Salah satu parpol di Grogol Selatan, Jakarta Selatan, Kamis (21/8/2008).

Yuni dan Sudirman terbang dari Riau untuk menghadiri upacara bendera HUT RI di Istana Presiden 17 Agustus lalu atas undangan Depdiknas. Malamnya, Yuni bersama anggota pengibar bendera pusaka dijamu makan malam oleh Presiden SBY di Istana Kepresidenan.

Lengkapnya di: http://www.detiknews.com/read/2008/08/21/180353/992346/10/terlantar-juara-dunia-catur-dijemput-depdiknas-di-posko-pdip

Yang paling membuat ngelus dada, adalah kata-kata yuni berikut:

“Sekarang saya kapok main catur lagi. Kalaupun mau main, karena saya suka,” ucap Yuni menyesal.

Ini hal yg paling menyedihkan. Ketika seorang generasi seperti Yuni di atas mengeluarkan kata-kata di atas, itu adalah sebuah kekecewaan paling mendalam. Ini mematikan satu orang dengan potensi emas. Kalau menyadari esensi ini, sudah sepantasnya dipecat itu orang depdiknas dan seluruh birokrat yang tak becus ngurus masalah sepele seperti ini. Mengapa? Kalau mayoritas generasi muda kita jadi apatis seperti Yuni ini, tak ada masa depan negara kita ini. Jadi logislah…

Kita semakin miskin dari hari ke hari, tapi kita makin egois juga hari ke hari. Dan terkikislah pondasi sosial kita, padahal itu salah satu kunci utama memberdayakan kemampuan kita untuk bangkit kembali.

Mengenang Bang Imad

SABTU 2 Agustus. Rapat pengurus YPM Salman baru saja usai setengah jam sebelumnya. Tiba-tiba sms masuk ke beberapa telepon genggam pengurus dan manajer Salman. Isinya: Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Telah meninggal dunia Bang Imad, di Kampung Bulak Klender, Jakarta pagi ini pukul 9.00.

Berita ini diterima antara percaya dan tidak. Percaya karena memang Bang Imad sudah lama sakit. Beliau sudah lama terkena stroke. Malah, tahun 1984 Bang Imad pernah kena serangan jantung, ketika masih menyusun disertasinya di Amerika. Tidak percaya, karena kita sebagai manusia kerap tidak ingin ditinggal orang yang dicintai.

Konfirmasi demi konfirmasi dilakukan oleh manajer di Salman. Dan toh, berita itu benar adanya. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Tokoh yang nama lengkapnya Dr. Ir. H. Muhammad Imaduddin Abdulrahim MSc itu memang sudah berpulang di usianya yang ke-77. Almarhum dilahirkan di Tanjungpura, Langkat Sumatera Utara pada 21 April 1931, bertepatan dengan tanggal 3 Dzulhijjah 1349 H. Ia adalah anak ke-7 dari 14 bersaudara. Ayahnya adalah Haji Abdulrahim, seorang tokoh Masyumi setempat. Ibunya, Syaifiatul Akmal.

Sejak SMA, Bang Imad aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia pun pernah aktif di Hizbullah, dan pernah mendapatkan pangkat kapten. Cita-citanya adalah menjadi seorang dokter. Namun, suatu hari Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan Bendungan Asahan. Hatta bercerita bahwa Bangsa Indonesia memerlukan banyak insinyur. Sejak itulah cita-cita menjadi dokter itu dibelokkan oleh Hatta. Maka, Imaduddin pun mengikuti tes ke ITB, dan diterima di Departemen Elektro.

Selama mahasiswa, Imaduddin ikut aktif mengupayakan pendirian Masjid Salman. Dia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandung. Mendirikan sebuah masjid di kampus waktu itu adalah sebuah hal yang ganjil. Apalagi ketika itu ideologi Nasakom sedang kuat-kuatnya.

Tahun 1962, Imaduddin lulus dari ITB. Ayahnya, H. Abdulrahim, kemudian menyusul ke Bandung untuk meminta Imaduddin pulang ke Langkat. Pasalnya, ada permintaan dari perusahaan minyak di sana agar Imad menjadi tim insinyur di sana. Sebetulnya Imaduddin tidak ingin pulang. Ia ingin membangun Salman yang akan menjadi pusat dakwah strategis.

Tak sampai hati menolak permintaan sang bapak, Imaduddin kemudian meminta tolong Prof. TM Soelaiman untuk meyakinkan ayahandanya. Akhirnya, kepada H. Abdulrahim, Prof. Soelaiman mengatakan bahwa ia akan menjadikan Imad sebagai asisten dosen di Dept. Elektro. Selain itu, Pak TM Soelaiman akan menjadikan Imad sebagai motor pembangunan Salman, sekaligus motor dakwahnya. Sebagai tokoh yang berlatar belakang agama yang kuat, H. Abdulrahim pun merelakan anaknya untuk tetap di Bandung. Dia ikhlas anaknya melakukan dakwah.

Imaduddin memang tokoh yang tegas dan konsisten. Penafsirannya tentang konsep tauhid mengguncangkan semua pihak. Pemikirannya dia tuangkan dalam buku Kuliah Tauhid. Bagi dia, kecintaan seseorang yang melebihi kecintaanya terhadap Allah, adalah sebuah bentuk kemusyrikan. Kecintaan berlebih terhadap kekuasaan adalah juga sebuah kemusyrikan. Atas ceramahnya yang tegas dan “keras” ini, pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto merasa gerah.

Suatu hari, Pangkokamtib Laksamana Soedomo mendapat jalan untuk menangkap Imaduddin. Saat itu, Imaduddin berceramah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Imaduddin mengatakan,  mempersiapkan kuburan pada saat dia belum mati, adalah syirik. Imad tidak menyebut satu nama pun dalam ceramahnya. Namun publik sudah tahu, saat itu Soeharto sedang membangun istana dan makam di Giribangun Yogyakarta.

Dua hari kemudian, tepatnya pada 23 Mei 1978, sesaat setelah keluar dari Masjid Salman setelah memberikan kuliah subuh, Imaduddin didatangi beberapa orang berpakaian preman. Ternyata mereka itu adalah tentara yang ditugaskan Soedomo untuk menangkap Imaduddin.

Adalah Rektor ITB, Prof Dodi Tisna Amijaya yang sangat sayang kepada Bang Imad. Pak Dodi membujuk Soedomo untuk membebaskan Imad. Pak Dodi mengatakan, Imaduddin bukan orang berbahaya karena dia tidak aktif di organisasi politik. Dia hanyalah seorang pendakwah. Kepada Soedomo Dodi mengusulkan agar Imaduddin dikirim saja ke luar negeri untuk menempuh S3.

Soedomo berhasil diyakinkan Dodi. Empat belas bulan setelah penahanannya, atau 21 Juli 1979 Imad menghirup udara segar. (Untuk satu hal ini, Imaduddin tidak akan pernah lupa jasa Pak Dodi. Bahkan ketika Dodi meninggal, Imaduddin yang selama ini pantang menangis, ternyata tak mampu menahan kesedihannya. Dia menagisi kepergian Pak Dodi). Namun, untuk studi keluar negeri harus ada izin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang ketika itu dijabat Daoed Joesoef. Sayang, Daoed yang berbeda secara ideologis dengan Imaduddin tidak memberikan izin.

Upaya untuk mengirim Imaduddin ke luar negeri menemui titik terang. Almarhum mantan PM Muhammad Natsir kemudian mengirim surat kepada Menteri Pendidikan Arab Saudi Syeikh Hasan Ali Syeikh. Natsir meminta agar Syeikh Hasan mengupayakan bea siswa dari kerajaan Saudi melalui King Fahd Foundation. sayang usia Imad sudah melebihi usia persyaratan penerima bea siswa. Namun Syeikh Hasan kemudian mengangkat Imad sebagai dosen di Universitas Abdul Aziz, Jedah. Dengan jalan seperti itu akhirnya Bang Imad mendapatkan bea siswa belajar ke Amerika, di Iowa State University.

Keberangkatannya ke AS justru menambah luas cakrawala dakwahnya. Dia aktif menjadi pengurus Muslim Student Association for US and Canada, International Islamic Federation of Student Organization (IFFSO), World Assembly of Muslim Youth, dan lain-lain. Ketegasannya terhadap tauhid menjadikan dia dijuluki sebagai seorang radical monotheist. Dia kerap dituduh sebagai anti budaya. Padahal bukan.

Bagi Imad, rekonstrusi masa depan umaat tidak saja hanya dilakukan melalui pemikiran keislaman, akan tetapi juga pada pemikiran iptek, sosial dan budaya. Namun semuanya itu harus diawali dengan membenahi pemahaman tauhid.

Lama di luar negeri, di tanah air pun ada perubahan penting. Soeharto yang kehilangan sedikit dukungan dari militer, kemudian mendekati golonga Islam. Atas jaminan Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawiranegara, Imad diminta pulang ke tanah air. Alamsyah mengutus menantu Hatta, Sri Edi Swasono untuk mengontak Imaduddin. Satu saja permintaan Alamsyah: “Jangan mengritik Soeharto. Urusan Benny Moerdani, akan ditangani saya,” begitu kata Alamsyah. Benny Moerdani adalah Panglima ABRI waktu itu, yang dikenal tidak suka kepada kelompok Islam. Tentu dia juga tidak akan pernah suka kepada Imaduddin.

Tahun 1986, Imaduddin pun pulang. Sayang statusnya sebagai seorang dosen di ITB sudah tidak ada. Imad sudah dipecat. Yang memecat adalah Dr. Tunggul Sirait. Imaduddin pun seperti kehilangan tempat berlabuh. Akhirnya, salah seorang murid dakwahnya, Hatta Rajasa kemudian memberikan ruangan di kantornya. Hatta sudah menjadi pengusaha sukses di bidang perminyakan.

Di Jakarta inilah Bang Imad yang seangkatan dengan Nurcholish Majid ini kemudian terus melakukan dakwah. Ia ikut mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sampai Tuhan memanggil pulang, Imad adalah anggota Dewan Kehormatan ICMI. atas jasa-jasanya, pada 1999 Presiden B.J. Habibie menganugerahi Imaduddin Bintang Mahaputera Utama. Karena itu dia berhak dimakamkan di taman makam pahlawan. Sebetulnya keluarga tadinya akan memakamkan Imaduddin di pemakaman umum. Namun negara meminta jasadnya diistirahatkan di Taman makam Pahlawan Kalibata. Dan, yang menjadi inspektur upacara pemakaman adalah Hatta Rajasa, muridnya yang kemudian mejadi Menteri Sekretaris Negara.

Masih banyak dan panjang daftar kiprah dia di dalam dakwah. Namun kita kini bisa merasakan bahwa hasil kerja Imaduddin sudah terasa. Dulu orang sagat malu mengucap salam (assalamualaikum), sekarang orang akan malu jika tidak mengucap salam, menebar rahmat. Dulu pengguna jilbab akan dikucilkan, sekarang jilbab bisa dipakai dengan leluasa di sekolah, di birokrasi dan di manapun, tanpa ada tekanan. Dulu sangat tidak mungkin ada musola di kantor-kantor besar. Sekarang, akan terasa kurang lengkap jika kantor besar tidak menyediakan musola.

Sudah selesaikan kerja Bang Imad?

Belum. Imaduddin masih melihat belum ada konsistensi antara ajaran Islam dengan nilai-nilai Islam. Dia masih melihat banyak orang Islam melakukan korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya. Dia masih melihat orang Islam lengkap dengan simbol keislaman akan tetapi ahlaknya masih tidak mencerminkan simbolnya.

Imad malah melihat nilai-nilai Islam seperti anti korupsi, budaya antre dan lain-lain justru dipraktekkan di dunia barat. “In the west there is no muslim, but there is Islam. But here in Indonesia, there are many Muslims, but there is no Islam.!”  (Di Barat, tidak ada muslim, tapi ada Islam. Tapi di Indonesia, banyak muslim tapi tidak ada Islam). Itu dia utarakan dalam sebuah ceramah di Salman, tidak lama setelah kepulangannya dari Amerika.

Kerja Bang Imad memang belum selesai. Itu adalah tugas kita selaku anak didiknya untuk mewujudkan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta.***

Sumber: http://cybermosque.com/salman.php?menu=detail&id=9

Selamat Jalan Bang Imad…

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’iun

Bang Imad, sosok yang lebih saya kenal dari cerita daripada sekedar bertemu langsung, yang lewat buku Tauhidnya saya benar-benar tercerahkan, sabtu 2 Agustus telah berpulang ke hadirat Allah SWT. Memang sempat bertemu beberapa kali, tapi saat generasi saya di Salman, beliau sudah lumayan sepuh dan memang lebih banyak di jakarta. Bagi kami yang pernah di Masjid Salman ITB, sosok Bang Imad merupakan sosok yang sangat istimewa, guru yang mengispirasi.

Selain buku Tauhid dan Kuliah Islamnya, Bang Imad akan selalu dikenang sebagai salah satu orang perintis generasi Masjid Kampus di negeri ini, terutama lewat LMD (Latihan Mujahid Dakwah)-nya. Ribuan kader yang pernah bersentuhan dan terinspirasi oleh beliau, dan ribuan aktifitas dakwah yang terlahir dari kader-kader tersebut di dunia pendidikan, politik, media, ekonomi dan budaya. Walaupun sempat dipenjara, dicopot paksa PNS dosen ITB-nya dan dipaksa pergi dari negeri ini oleh rezim Orba, akhirnya negeri ini tetap menghargainya dengan Bintang Mahaputera, sebelum beliau mengakhiri perjalanannya di dunia fana ini.

Selamat Jalan Bang Imad, semoga Maghfirah dan Rahmat Allah SWT selalu menyertaimu. Amin.

Mati Lagi… Mati Lagi….

Tak di Bandung, tak di Medan…. Listrik byar pet…

Di tengah-tengah ngejar deadline, sambil nahan kangen dengan keluarga di Bandung, listrik mati lagi Medan ini: Perumahan Tasbi II Medan. Ada yg sedikit membedakan antara mati listrik di Medan dan Bandung:

  1. Mati listrik di Medan durasinya relatif agak terprediksi, kalau mati magrib sd malam, kira-kira segini jam; kalau mati siang hari, segini jam… Itu kata Pak Tony yang menjaga rumah tempat saya numpang ini.
  2. Orang Medan jauh lebih berpengalaman menghadapi listrik mati, karena sudah jauh hari mengalaminya dibanding kami yang di Jawa. Jadi kadar nggerundelnya jauh di bawah kadar nggerundel orang Bandung. hehe…..
  3. Orang Bandung masih harus tersenyum: intensitas dan durasi mati listrik di Medan masih jauh lebih parah. Hehe…

Kapan ya yg seperti ini berakhir??? Akhir tahun depan kata JK, berarti 1.5 tahun lagi. Duh….

Nasionalisme itu….

Sore ini, di acara Showbiz on Location Metro TV, selama 30 menit Alvin Adam memandu acara yang mengulas perjuangan Tim Elfa’s Singer di perlombaan internasional menyanyi di Graz Austria. Penyanyi-penyanyi senior Elfa’s Singer yang sudah malang melintang ikut memperkuat tim Indonesia, meninggalkan keluarga dan pekerjaan di tanah air. Latihan terus sampai jam-jam terakhir pentas. Pentas yang memukau dan dua kemenangan Grand Champion dapat diraih. Ketika seluruh kontingen Indonesia maju ke depan podium untuk menerima penghargaan dan menyanyikan INDONESIA RAYA, tak terasa ternyata ikut sembab juga mata ini. Ternyata nasionalisme itu indah…. Kalau saya hadir di sana saat itu, pasti lebih larut lagi….

Nasionalisme itu salah satu vitamin penyehat jiwa. Berkelompok sosial sampai ujungnya munculnya teori aristrokrasi atau Nation State adalah pengejewantahan naluri alamiah manusia akan kebutuhan sosialisasi. Kalau Tom Hanks dalam Cast Away menjadi begitu “gila” kelakuannya karena terpisah berbulan-bulan dengan manusia karena terdampar di pulau terpencil di Samudera Pasifik, itu dapat dimengerti dengan pendekatan ini.

Setelah acara di Metro TV ini, saya switch ke stasiun TVOne yang mengulas tentang perang gerilya Jenderal Soedirman, The Indonesian Greatest General untill today. Kalau Anda melihat acara tersebut (saat menulis ini saya sambil melihat TV), Anda pasti setuju dengan pendapat saya: berapa ikhlas, tabah, sabar dan kuatnya Jenderal Soedirman dan seluruh pejuang republik saat itu. Kelaparan dan sakit keras tak menghentikan beliau, selalu taat ibadah dan menjaga kebersihan jiwa sampai detik terakhir kehidupannya. Hebatnya beliau ini, kelembutannya adalah kekuatannya, setiap perselisihan antar laskar akan selesai dengan surat beliau. Mantan Guru Muhammadiyah, dan pemimpin Pandun Hizb Wathan, bahkan disebut sebagai kyai dan fatwa-fatwanya selalu bersandar pada ajaran Islam. Islam dan Nasionalisme, itulah menurut saya jadi sumber kekuatan Jenderal Soedirman. Semoga maghfirah dan rahmat Allah selalu tercurah untuk Jenderal Soedirman.

Kalau dulu Indonesia ini hadir secara syariat salah satunya dengan nasiolisme para pendahulu kita, kini kita butuh itu untuk bangkit kembali.

Medan, 3 Agustus 2008. Di tengah-tengah ngelembur kerjaan.

6 jam di Hang Nadim

Hari ini ada agenda survey di Batam. Ini perjalanan pertama ke Batam. Menginjakkan kaki di Bandara Hang Nadim, kesannya memang langsung berbeda dengan bandara-bandara di Jawa: lebih simple, futuristik dan bersih. Cerita dari sopir taksi, kontraktornya dari korea. Yg membedakan lagi, keluar dari pintu keluar, langsung panorama perbukitan. Keluar dari bandara, langsung disergap jalan rapi dan lebar, kanan-kiri masih asri. Rasanya jauh lbh nyaman dibandingkan dengan perjalanan ke Cengkareng, penat rasanya kepala…

Cuma 3 jam saja survey, karena hanya konfirmasi desain. Jam 12 lbh sedikit sudah di bandara, padahal pesawat jam 18.15. Nunggu 6 jam di bandara!! Untunglah batere labtop masih bisa 2 jam, shg masih disambi kerja. Di ruang tunggu ada wifi dari telkom, free dan cepat. ALhamdulillah, menghemat dibanding harus pakai IM2 yg di bandara cuma bisa GPRS. Apa karena card vodafone-ku yg kuno?

Hand Nadim adalah nama satu raja melayu, begitu kata sopir taksi yg ngantar balik ke bandara. Dalam perjalanan ke Bandara ada danau yg katanya untuk tandon air bersih Batam, 1 dari 2 yg ada di Batam. Satunya lagi airnya katanya destilasi dari air laut.

Batam, see you at next week: my second flight to Batam.