Ditunggu, Debat Terbuka Golput Haram

Saya bingung.. ngung….. Mengapakah golput diharamkan? Memilih adalah hak, bukan kewajiban, itu adalah bunyi UU Pemilu. Karena berhak memilih dan tak memilih, mengapa yang tak memilih akhirnya diharamkan? Kalau diwajibkan memilih, kapan itu partai-partai yang masuk kategori “gombal” mau belajar?

Pemilu adalah bagian demokrasi, dan banyak juga ulama yang tidak setuju demokrasi. Kalaulah demokrasi tak disetujui, maka seluruh turunan mekanisme tak perlu diperdebatkan lagi, wong parent-nya sudah jelas hukumnya. Itu kalau mengikuti fatwa bahwa demokrasi tak sesuai dengan Islam.

Semoga ada debat terbuka khususnya mengenai hukum Golput haram ini. Kalau isu haramnya rokok sudah lama berhembus, kalau golput kan berhembusnya bbrp bulan terakhir ini saja, terutama ketika salah satu lembaga negara mengutarakannya secara terbuka di media.

USA Now: Reverse Brain Drain

Salah satu kunci di belakang suksesnya Amerika ternyata adalah banyaknya imigran intelektual yang masuk ke sana. Tahukah Anda bahwa dalam 10 tahun terakhir ini bahwa patent yang diajukan oleh Foreigner tersebut berlipat tiga dibandingkan dekade sebelumnya? Majalan Communication of The ACM (Nov 2007) malah mengatakan bahwa ternyata Universitas Harvard, Duke dan New York University telah mempublikasikan analisa pengajuan patent internasional, dan menyebutnya: REVERSE BRAIN DRAIN.

Ketiga universitas ini memperingatkan pemerintahnya, kalau tidak ada reformasi imigrasi, maka “skilled immigrants” tesebut akan meninggalkan USA, dan akan menggerogoti daya saing bangsa. China dan India disebut eksplisit dalam publikasi ACM ini sebagai negara-negara yang berpotensi menciptakan perusahaan-perusahaan rival dari trend di atas. Ini ada bbrp fakta menarik:

  • USA rata-rata dalam setahun memberikan visa permanent ke 1,2 juta “skilled workers”
  • Di tahun 2006, masih ada sekitar 1 juta orang “skilled workers” yang masuk waiting-list (ini termasuk 500 ribu “highly skilled worked”)
  • Berdasrkan hasil riset oleh ketiga lembaga itu: jumlah patent di WIPO (World Intellectual Property Organization) yang dihasilkan oleh foreigner pada 1986 adalah 7.3%, dan di tahun 2006 mencapai 24.2%.

***

Saya baru baca lagi majalan langganan ini sambil lalu, pas baca tahun 2007 dulu malah tidak ngeh. Orang-orang Indonesia banyak juga yang ikut barisan “skilled foreigners” tadi, saya yakin sekali dengan itu. So, apakah Indonesia mampu menawarkan iklim riset dan industri yang memungkinkan orang mau balik kampung? Dalam banyak kasus, researcher dan technopreneur tadi merasa jadi “nothing” jika harus balik dan tak bisa melakukan apa-apa.

India dan China, dua negara yang layaknya dijadikan contoh untu yg seperti ini.

Fatwa Hukum Rokok, Dampak Ekonomi dan Budaya Rokok

Akhirnya MUI mengeluarkan fatwa haram atas rokok, tapi ini dikhususkan untuk Anak-Anak, Remaja dan Ibu Hamil. Begitu saya baca di detik.com, lewat RSS Feed di outlook.

Apakah hukum merokok?

Saya dan empat saudara saya disekolahkan pakai uang rokok ini. Bapak saya sejak lulus SD sampai dengan pensiun kerja di Gudang Garam Kediri. Beberapa paman dan saudara sepupu saat ini juga kerja di Pabrik Gudang Garam, demikian pula bunyaakkk sekali tetangga saya di Kediri sana. Penyumbang terbesar Ponpes Lirboyo, salah satunya adalah Gudang Garam. Di Kediri saja, Gudang Garam menyerap lebih dari 40.000 pekerja. Di lereng-lereng gunung wilis tak terhitung petani yang jadi bagian urat nadi industri rokok ini, belum lagi industri-industri derivatifnya. Kediri Kota adalah salah satu kota paling besar PAD-nya, karena cukai rokok. Kalau Gudang Garam tutup, pemda kota dan kabupaten bisa dipastikan akan langsung limbung, dapat dipastikan akan menghadapi permasalahan sangat-sangat berat.

Kudus mirip sekali dengan Indonesia, dengan Djarumnya. Surabaya ada Sampoerna, tapi dia tidak mendominasi ekonomi sebuah daerah, seperti di Kediri dan Kudus.

Kak Seto adalah pendukung utama fatwa haram ini, terutama karena kesedihan beliau yg sangat mendalam akan konsumsi rokok di anak-anak dan remaja. Di Bandung ini, tak susah menemukan anak-anak SD (!!!!!!!!) ngariung pagi-pagi dengan temannya, dengan asap rokok mengepul di tengah-tengah mereka seperti api unggun.

Setelah diluncurkan, aliran yang mendukung dan menentang sama kerasnya. Alasan pihak pendukung di antaranya adalah kesehatan, masa depan generasi penerus, dsj. Penentangnya beralasan pada dampak ekonomi berantai yang ditimbulkannya, level haram belum saatnya (banyak yg berpendapat makruh lebih tepat), dsj. Yang menentang juga mempertimbangkan bahwa”BUDAYA ROKOK” yg sadar atau tidak merasuki masyarakat ini, bisa kontraproduktif jika dihantam dengan fatwa haram, MUI bisa hancur legitimasinya karena semakin tak dipercaya masyarakat. Di Kediri sana, kalau mengikuti tradisi tahlilan, suguhannya salah satunya adalah rokok. Jadi setelah tahlilan, semua orang akan merokok sambil menikmati makanan yang disajikan, plus ngobrol menunggu pembubaran acara. Rumah seperti bus terbakar. Tapi itulah tradisi di sana….. Rasanya ini merata hampir ada di kota-kota Jatim sana.

Secara budaya ini memang berat…..

Saya tak tahu banyak Ushul Fiqh, metodologi yang digunakan untuk mengambil sebuah hukum atas sesuatu. Semoga dampak-dampak negatifnya tak terjadi, ya kalaupun terjadi minimallah….

Untuk Palestina

Syukurlah ada Aljazeera, sehingga bisa dapat dua sisi bertolak-belakang dari peristiwa palestina terkini. CNN jelas sekali berpihak ke israel, cuplikan beritanya selalu menonjolkan berapa tentara terkutuk israel yang terluka, dibandingkan dengan ratusan sipil palestina yang meninggal, atau ribuan lainnya yang terluka parah. Coba ke New York Times, sama saja, yang jadi headline malah gambar penguburan sipil israel.

Tak perlu diperdebatkan, media-media barat seperti CNN dan New York Times tidak akan berpihak kepada apa yang kata mereka “nilai-nilai universal”. Standar ganda… lagi-lagi. Tak perlu capek habiskan energi untuk menghujat negara-negara dan manusia-manusia binatang seperti mereka. That’s enough, now we focus on du’a and help on Palestine’s.

Mari kita doakan rakyat Palestina dan pejuang-pejuang HAMAS yang saat ini berjuang. Setiap akhir sholat, setiap melihat atau membaca beritanya. Israel was failure to learn, begitu satu tulisan di Aljazeera. Israel keliru besar kalau palestina bisa ditundukkan dengan senjata. Mereka tak belajar dari peristiwa memalukan tahun 2006, ketika mereka bertekuk lutut dengan Hizbullah di Lebanon. Saat serangan darat diluncurkan seperti saat ini, itulah saat neraka datang bagi mereka.

Berbagai analisa jurnalis independen tentang potensi militer HAMAS dapat dibaca detailnya di site Aljazeera. Semakin perang ini berlarut, konstelasi politik lokal di berbagai negara arab bisa berubah drastis. Mungkin saja terjadi kejatuhan rejim di negara-negara arab seperti mesir, karena kebijakan pemerintahnya akan palestina bertolak belakang dengan keinginan mayoritas warganya.

Perbanyak doa untuk saudara kita di Palestina.

Sisihkan rejeki kita untuk membantu mereka.

Obama: New Hope, Perampok atau Perompak?

Dalam salah satu wawancara di salah satu TV swasta, waktu ditanya reporter apa bedanya Partai Republik dan Partai Demokrat di USA sana, pak Amien Rais bilang: Satu perompak, yang lain perampok. Tentu saja beliau berseloroh atas ungkapannya itu. Tapi yang saya tangkap, partai apa pun yang menang di pemilu sana, tak ada pengaruhnya sama kita. Tetap saja kita dipencet habis-habisan. Waktu Clinton Indonesia diserang habis-habisan dengan isu HAM, waktu Bush kita didikte habis dlm isu terorisme. Sami mawon, ini sudah berjalan hjampir 4 dekade, sejak tahun 70-an ketika pembangunan negeri ini banyak berkiblat ke Amerika.

Obama terpilih jadi presiden, akankah ada perubahannya buat Indonesia atau dunia Islam? Hmmm…. nggak yakin ada. Di konferensi pers pertamanya saja dia sudah menjilat ludahnya sendiri untuk berdialog lebih terbuka tentang isu nuklir iran. Alih-alih berdialog, malah dia secara tegas mengatakan kalau program nuklir iran tidak dapat diterima. Lihat di sini.

Apakah tata perekonomian dunia akan berubah? Akankah buble system karena implementasi mata uang dolar amerika sebagai hard currency tanpa ada referensi nilai riilnya seperti sekarang ini akan mengalami pergeseran?

Kali Cikapundung vs Kali Code

Kali (sungai) Cikapundung membelah jantung Kota Bandung, Kali Code adalah salah satu kali yang membelah Kota Yogyakarta. Dua hari kemarin, Minggu-Senin (09-10/11/2008) kemarin ada agenda ke Jogja. Senin malam, sambil nunggu kereta lodaya dari Solo (dari Stasiun Tugu 21.30), saya nengok anak ketiga temen yang baru lahir bbrp minggu lalu, makan rawon jawa timuran, baru ke stasiun.

Dalam dua hari itu beberapa kali melewati Kali Code. Yang paling membedakan dengan Sungai Cikapundung, Kali Code jauh lebih bersih. Perumahan-perumahan di pinggir Kali Code juga tertata sangat rapi, walaupun sederhana. Jalan-jalan setapak di sepanjang sungai diaspal rapi, tempat-tempat duduk santai banyak dibangun di pinggir sungai. Kata Helmi temen saya yang ngantar seharian itu, ternyata ada juga Rumah Susun yang sengaja dibangun di pinggir Kali Code itu, sehingga memang bisa jadi solusi untuk menampung banyak keluarga di situ.

Dua minggu lalu sempat ada workshop dengan teman di Hotel Aston, Braga Bandung. Dari lantai 16 bisa dilihat liukan Kali Cikapundung. Jadi ingat itu, dan dibandingkan dengan yang kemarin dilihat di Kali Code, jadi malu sama orang Jogja. Kapankah Kali Cikapundung bisa seperti Kali Code?

Satu lagi, kapankah jalan juanda (Dago) tidak lagi menjadi sungai dadakan ketika hujan besar datang? Ini satu lagi perbedaan dengan Jogja, drainase di sana lebih tertata dan terpelihara dibandingkan dengan Kota Bandung. Kalau Bandung terus begini, industri jasa lambat laun akan pudar, karena citra Bandung yang asri, tertata dan berhawa sejuk semakin susah didapatkan.

Semoga ini salah satu titik terang itu…

Berikut ini berita tentang penerimaan taruna Akpol terbaru:

“Tahun ini anak Kapolda (berpangkat jenderal) tidak lulus, sedangkan anak seorang penambal ban di Cengkareng (Tangerang, Banten) lulus,” kata Deputi Sumber Daya Manusia Kapolri, Irjen Pol Bambang Hadiyono di Kampus Akpol, Kota Semarang, Senin.

Pokorasmin, seorang penjual roti panggang asal Bandung mengaku tidak tahu menahu soal uang.”Tidak tahu soal itu. Dia (anak saya) daftar sendiri. Dia juga tidak pernah minta uang ke saya,” ujarnya.

Selengkapnya: http://www.antara.co.id/arc/2008/8/25/anak-penambal-ban-kalahkan-anak-jenderal-untuk-masuk-akpol/